Rak Buku


Chicken Soup for the Woman’s Soul

Ditulis dalam Book Review, Inspirasional, Resensi Buku oleh paskalina pada 19 Oktober 2009
Tags: , , , , , , , , ,

Judul Buku : Chicken Soup for the Woman’s Soul, 77 kisah untuk membuka hati dan mengobarkan kembali semangat wanita ~ Penulis : Jack Canfield, MarkVictor Hansen, Jennifer Read Hawthorne, dan Marci Shimoff ~ Penerbit : Gramedia ~ Tahun terbit : Cetakan ke-10, Maret 2009 ~ Jenis : Pengembangan Diri ~ Tebal : 332 halaman ~ ISBN : 978-979-605-827-3

Chicken Soup for the womanWanita memiliki peran yang luar biasa dalam kehidupan ini. Wanita berperan sebagai anak perempuan, ibu, istri, karyawati profesional, sahabat, guru, dan murid. Setiap peran yang dijalankan seorang wanita pastilah meninggalkan kenangan yang luar bisa bagi dirinya, dan bagi orang-orang di sekitarnya.

Sebagai seorang single parent, wanita memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mengasuh anak-anak mereka. Namun, ada juga wanita-wanita yang mengalami putus harapan karena harus mengurus anak dan membesarkan anak seorang diri.

Ketika wanita menjadi seorang anak, ibu, dan istri begitu banyak rintangan yang membuat wanita merasa terpuruk, terkucilkan, dan jauh dari orang-orang yang disayanginya.

Berbagai permasalahan yang dialami wanita dan bagaimana cara wanita untuk mengatasi permasalahan hidupnya terangkum dalam 77 kisah pada Chicken Soup for the Woman’s Soul.

Kisah-kisah ini dapat membangkitkan semangat hidup siapa saja yang membaca, khususnya wanita. Jangan lewatkan untuk membaca 77 kisah mengetarkan ini! Selamat membaca dan dapatkan kobaran semangatnya!

Renungan

Ditulis dalam Inspirasional, Resensi Buku oleh paskalina pada 10 Januari 2009
Tags: ,

Saat membaca kisah ini, saya merasa perlu untuk menyebarkannya. Kisah ini sungguh menyentuh, dan mungkin pernah juga kita alami.

Bacalah…


Kiriman Kacamata

Kisah ini mengingatkan kembali apa yang pernah dikatakan pemikir Thomas Merton, filsuf Amerika Serikat, …. Tuhan bisa melakukan berbagai perkara penting melalui cara sederhana dan tak terduga.

Sore itu, Kakek merampungkan pekerjaannya membuat lemari kayu yang esok akan dikirim ke panti asuhan di Kalimantan yang terkena banjir, bersama dengan berbagai perkakas seperti ranjang, kursi roda, obat-obatan, selimut, sebagai sumbangan dari warga lingkungan kali. Namun sehari kemudian ia panik kehilangan kacamata. Selidik punya selidik, ia baru ingat menaruh kacamata tersebut di dalam lemari yang sudah disumbangkan tersebut. “Duh, Gusti. Saya ‘kan sudah menghabiskan tenaga dan uang menolong sesama. Kenapa malah jadi begini?” gerutu Kakek, seolah menyalahkan Tuhan. (lagi…)