Oleh: paskalina | 29 Oktober 2009

Kami Anak-anak Bom Atom

kami anak-anak bom atomJudul Buku : Kami Anak-anak Bom Atom

Editor : Osada Arata

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun terbit : 2009

Jenis : Kisah Nyata

Tebal : 158 hal

ISBN : 978-979-91-0204-1

_____________________________________________________

Anda tentu tahu peristiwa bom atom di Hiroshima, Jepang. Tepatnya, tanggal 6 Agustus 1945 pada pukul 8.15 waktu setempat bom uranium seberat 4,5 ton, yang diberi nama “Little Boy” dijatuhkan di kota ini, dan meledak pada ketinggian sekitar 500 meter. Dalam sekejap, Kota Hiroshima berubah menjadi neraka. Dalam waktu hanya beberapa detik, semua makhluk hidup dan bangunan di pusat ledakan musnah. Sekitar 100 ribu orang tewas seketika. sampai 5 tahun kemudian setelah ledakan itu, sedikitnya 200 ribu orang menyusul tewas karena dampak radiasi atom.

Tak terbayangkan bagaimana kondisi kota Hiroshima saat itu. Jerit tangis, histeris minta tolong, bercampur dengan kobaran api dan porak-porandanya kota. Semua orang berusaha mencari perlindungan tanpa mempedulikan teriakan minta tolong orang-orang sekitarnya.

Jam 8.15 pagi adalah waktu di mana, anak-anak pergi ke sekolah, ayah dan ibu pergi bekerja, kakak-kakak sedang pergi menjadi sukarelawan, dan ada juga anak-anak kecil yang main di rumah tetangga. Tepat saat mereka sedang beraktivitas itu, bom atom meledak.

Anda ingin tahu seperti apa kacaunya kondisi saat bom atom itu memporakporandakan kota Hiroshima? Segera miliki buku Kami Anak-anak Bom Atom. Buku ini terdiri dari 29 kisah sejati yang ditulis oleh anak-anak yang saat bom atom itu dijatuhkan di Hiroshima masih berusia 5. Mereka bertutur dengan polos di antara kesedihan, kegetiran, dan ketegaran menghadapi kematian kakak, adik, ayah, dan orang-orang tercinta lainnya.

_____________

Note:

Diadakan lomba resensi buku ini. Pesertanya anak-anak usia SD. Ingin tahu apa saja syarat-syarat lombanya, belilah buku ini, karena kamu akan menemukan informasinya dalam buku ini.


Tanggapan

  1. [...] Klik untuk BACA REVIEWNYA [...]

  2. Aku kagum pada anak-anak itu. Alih-alih membalas dendam, mereka justru menaruh harapan pada dunia yang lebih baik.
    Sepertinya, kita masih harus banyak belajar dari mereka. Mereka mampu berteduh.- di tenteramnya nurani & bercermin pada indah rasa. Meski gundah meraja jiwa.
    :)
    Terimakasih untuk bahasannya, buku yang sangat indah.

  3. salam kenal Rf. Yanuar

    Trima kasih sudah berkunjung ke blog, saya tunggu comment2 selanjutnya.

    Salam :)


Beri tanggapan

Your response:

Kategori