Nasihat Mini
NASIHAT MINI
“Jaga diri baik-baik. Hati-hati.”’ Pesan itu lagi yang kudengar dari bibir mamaku ketika perpisahan sebentar lagi akan terjadi antara aku dan dia. Setelah aku berpikir dan berpikir, ternyata makna kata-kata mama itu sangatlah tinggi. Sebagai seorang anak sulung, aku memang diharapkan untuk menjadi orang yang sesuai dengan keinginan orang tuaku. Apalagi aku seorang perempuan. Noda sedikit saja bisa menghentikan langkahku dengan sekejap. Noda setitik debu bisa menghancurkan masa depanku. Cocoklah ada peribahasa yang berbunyi seperti ini: Nila setitik dapat merusak susu sebelanga. Dengan nasihat mini dari mamaku, “Jaga diri baik-baik”, aku seakan mengikat tubuhku dengan sangat rapi agar tak ada cela dan noda dalam lakuku.
Nasihat mini dari mamaku selalu kudengar. Logikanya yang kudengar seharusnya, “Sekolah yang bener ya, dapatkan nilai yang paling bagus.” Belum pernah aku mendengar itu. Tetapi tetap saja nasihat mini itu yang keluar dari bibir mamaku.
Dalam diriku sudah tertanam nasihat mini itu. Dalam diriku selalu terngiang kata-kata itu. Aku menterjemahkan nasihat mini itu sebagai sebuah kepercayaan yang sangat besar dari seorang ibu pada anak gadisnya. Kepercayaan yang harus aku jaga dalam segala lakuku.
***
Hidup di kota Besar, jika tak disertai dengan keteguhan hati dan iman, sangat berbahaya. Jika tak kuat menahan godaan bisa-bisa terjerum dalam lingkar dosa.
Aku bersama dengan nasihat mini dari mamaku, bis adikatakan berhasil menjadi keteguhan hati dan iman. Aku menjadi orang yang tak mudah terpengaruh oleh kebiasaan dan tabiat yang bisa menjerumuskan, meski dikatakan kampungan dan bodoh sekalipun.
“Lay, jangan tersinggung dengan pertanyaanku ini ya.” Kata seorang kakak angkatanku saat menunggu jam berikutnya.
“Memangnya, Kak Rey mau tanya apa? Kok serius amat sih,” jawabku dengna enteng.
“Kamu dah punya pacar?”
“Belum, memangnya kenapa, Kak?”
“Boleh ga kalau Kak Rey jadi pacarmu?”
“Ah, Kak Rey, maaf, aku belum pernah berpikir sampai sejauh itu tentang pertemanan kita?”
Benteng penjagaan dalam diriku bekerja saat seorang kakak seniorku menginginkanku jadi pacarnya. Aku merasa tak ingin terjamah oleh siapa pun. Aku tak ingin ada seseorang yang membuatku menjadi berbahaya. Ketika sahabatku kuceritakan tentang hal ini dia malah memakiku habis-habisan.
“Bodoh kamu itu, dia kan benar-benar baik padamu, setiap hari antar jemput ke kampus, kurang apa sih dia.”
Mungkin orang lain pun berpikir sama, menganggapku sangat bodoh dan tolol. Apalagi, menurut pandangan umum, usia 19 tahun itu sudah seharusnya telah mencicipi apa arti pacaran. Tetapi semua itu tidak buat aku.
Jujur, dalam lubuk hatiku yang paling dalam, saat itu aku menginginkan dia berada di sisiku. Tetapi, bagian hatiku yang lain berontak tak menginginkannya. Dan akhirnya, peberontak hatiku menang.
***
“Jaga diri baik-baik, Mbak.” Nasihat mini itu lagi yang terngiang di telingaku. Tertanam dan terpatri dalam ingatanku. “Mbak”, adalah panggilan mamaku untuk membiasakan adikku memanggilku dengan sebutan itu. Sebagai seorang anak sulung, aku ingin berbakti pada kedua orang tuaku. Aku tak ingin mengecewakan mereka. Oleh karena itu, nasihat mini itu sangat kupegang teguh karena itu adalah kepercayaan yang diberikan kepadaku. Kedua orang tuaku, terutama mamaku, tak pernah mendiktaktor sebuah ultimatum yang harus aku dan adikku taati. Nasihat mini itu saja sudah merangkum beribu-ribu nasihat orang tuaku.
***
Yogyakarta, kota tempat aku menimba ilmu di perguruan tinggi. Di kota ini aku tinggal sendiri, tanpa saudara tanpa tempat menggantung. Ketika pertama kali aku datang ke Yogyakarta, diantar kedua orang tuaku, setelah itu aku dilepas dengan bebas.
Sempat kuberpikir betapa percayanya orang tuaku padaku. Apakah mereka tidak takut kalau aku berbuat macam-macam di kota ini? Aku bisa saja menghabiskan uang di kota ini tanpa sepengetahuan mereka. Aku bisa saja meminta uang terus menerus dengan alasan bayar uang kuliah. Ah…Tuhan itu memang adil. Dengan benteng pesan mini dari mamaku, jaga diri baik-baik, aku tak melakukan hal yang tak sejalur dengan keinginan orang tuaku. Tuhan memberikan kebahagiaan buat orang tuaku, kerena telah memberikan anak yang begitu memegang teguh nasihat orang tua.
Aku tak bermaksud ingin menyombongkan diri sendiri. Pada kenyataannya memang aku tak pernah mengecewakan kedua orang tuaku. Aku selalu mendapat pujian di tempat aku tinggal. Aku sangat membanggakan diri, tubuhku terutama. Aku menang tidak cantik. Aku juga tidak sexy. Tapi aku masih menghargai nilai kesucian seorang wanita. Tentu saja semua itu berkat nasihat mini dari mamaku.
***
“Eh, tahu ga, si Hening itu ternyata hamil.”
“Hah, sama sapa.”
“Ih, masa sama aku sih. Ya jelas dengan pacarnya dong. Kamu tahu kan, Agus, kakak kelas kita. “
“Padahal mereka itu kelihatan alim banget. Kok bisa ya.”
“Itulah akibatnya kalau ga bisa jaga diri dengan baik, pacaran boleh tapi jangan kebablasan.”
“Kita sebagai wanita harus pandai-pandai menjadi diri dengan baik.”
Lagi-lagi kudengar, “Jaga diri dengan baik.” Kata-kata itu tidak keluar dari mulut mamaku. Tapi memang benar, percakapan yang kudengar itu salah satu bukti tidak jaga diri dengan baik. Aku jadi merasa diingatkan kembali pada nasihat mini dari mamaku. Sebagai perempuan, aku sangat memegang teguh virginitasku. Nasihat mini mamaku berperan besar akan hal ini. Kebanyakan orang saat ini tak lagi menilai perempuan dari virginitasnya. Banyak perempuan yang dengan mudahnya memberikan keperawanannya pada siapa pun dan pada akhirnya ketika bencana datang sang perempuan jugalah yang menimang hasilnya. Seperti kasus yang jadi perbincangan temanku tadi.
“Jaga diri baik-baik.” Nasihat mini mamaku ini dapat kuterjemahkan menjadi menjadi, “Jaga tubuhmu baik-baik, jangan biarkan siapapun menyentuhnya.” Pada praktiknya, aku memang tak seekstrem itu. Aku tidak lalu menutup diriku dari laki-laki.
***
Saat itu umurku menginjak 20 tahun. Kuliahku belum usai, masih ada beberapa mata kuliah yang harus kuambil untuk menuju proses akhir kuliah. Aku telah membuat suatu langkah besar dalam hidupku. Ketika liburan tiba, aku membawa sesosok lelaki untuk kuperkenalkan pada kedua orang tuaku.
Aku menganggap itu sebagai sebuah langkah besar. Bagaimana tidak, hal itu merupakan yang pertama kalinya kulakukan seumur hidupku. Aku yang dipandang orang selalu mementingkan sekolah, tiba-tiba membawa sesosok lelaki yang kala itu kuimpikan menjadi suamiku.
“Mbak, ati-ati lho. Jaga diri baik-baik.” Nasihat itu yang kudengar suara mamaku dari ujung telepon, ketika aku mengabarkan akan pulang bersama sesosok lelaki, yang kala itu resmi menjadi pacarku. Pacar pertamaku, lebih tepatnya.
Aku telah mengikuti nasihat mamaku. Kujaga diriku dengan baik, tapi aku tak menjaga hatiku dengan baik. Itulah sifat dunia. Di dunia ini tak akan ditemukan kesempurnaan dunia. Selalu saja ada kurangnya. Aku memang telah menjaga diriku dari jamahan-jamahan lelaki.
Liburanku berjalan dengan sempurna, semua belenggu perbedaan kubenamkan jauh-jauh dari hatiku. Tetapi jujur, ada sebuah ganjalan besar di hatiku dengan situasi saat itu. Ketika aku pergi seusai liburan, aku dengar kata-kata lain dalam nasihat mamaku. Kata-kata itu sungguh sangat menyentuh hatiku. “Jaga diri baik-baik ya. Ingat jangan sampai kamu hancurkan kuliahmu. Mama ingin kamu bisa menyelesaikan kuliah. Lalu, mendapatkan pekerjaan dan baru memikirkan untuk berumah tangga.”
“Ya, Ma.” Hanya itu jawabku saat itu.
Waktu berlalu sedemikian cepat, aku hampir menyelesaikan kuliahku. Satu persatu sahabatku pergi meninggalkan aku. Tapi mereka pergi bukan karena telah menyelesaikan kuliahnya. Beberapa sahabatku pergi membuka babak baru dalam kehidupan mereka. Mereka terlanjur tak bisa menjaga diri dengan baik. Mereka terlanjur membuat kesalahan yang seharusnya mereka hindari. Mahligai perkawinan terpaksa mereka arungi karena takut si jabang bayi lebih dulu muncul ke dunia. Aku hanya bisa mengelus dada melihat realita itu. Realita itu benar-benar menjadi cambuk buat aku.
Kembali pada nasihat mamaku, “Jaga diri baik-baik.” Aku akan selalu camkan nasihat itu. Aku tidak mempedulikan anggapan orang yang menyebutku kurang pergaulan, kampungan, dan masih banyak sebutan lain. Keteguhanku tetap menjagaku.
Nasihat mamaku akan aku pegang selalu. Keperawanan tetaplah nilai yang tak bisa dibeli dengan apa pun, kecuali pernikahan yang sakral.
Jakarta, 16 Agustus 2007
di/pada 20 Oktober 2008 di/pada 7:44 am
Indah nian kisah ini..uda tak sangka adinda mahir berkata-kata. teruskan adinda..