MANUSIA AL’QURAN – Jalan Ketiga Religiositas di Indonesia
Resensi ini juga dipublikasikan di www.wisata-buku.com
Judul: MANUSIA AL’QURAN – Jalan Ketiga Religiositas di Indonesia
Penulis: Prof. Dr. Abdul Munir Mulkan
Genre: Keagamaan
Penerbit: Impuls dan Kanisius Yogyakarta
Terbit: tahun 2007
Tebal: 369 hlm
Sejarah mencatat bahwa Islam, yang diwartakan nabi Muhammad Saw adalah agama damai. Islam, bukan agama yang mementingkan kekerasan dalam dakwahnya. Islam mencakup dimensi sosial-kemanusiaan, spritual, dan intelektual. Ia dipandang sebagai puncak evolusi sejarah agama-agama besar dunia ketika semua tradisi para nabi dan rasul sebelumnya mengalami dan memasuki tahap sintesis mutakhir.
Namun, akhir-akhir ini berbagai insiden yang terjadi di tanah air menggugah kembali keluhuran Islam. Dengan kata lain, Islam dihadapkan pada sebuah pilihan untuk kembali menggulirkan perdamaian sebagai panglima “perang”.
Di Indonesia ada dua aliran kuat yang dominan, yakni kaum fundamentalis dan kaum liberalis. Keduanya memiliki cara pandang berbeda terhadap Islam, bagaimana seharusnya ditafsirkan.
Prof. Dr. Abdul Munir Mulkan menulis buku ini dengan itikad konsientisasi, yakni kesadaran membangun religiositas manusia Indonesia seutuhnya, melalui etika Quran. Pertama, etos global kerahmatan Islam bagi semua orang dengan beragam pengalaman budaya dan keagamaan. Kedua, kesatuan ilmu qurani (qauliyyah) yang deduktif dan ilmu alami (kauniyyah) yang induktif. Ketiga, kritik terhadap pengalaman parsial kemanusiaan dan keagamaan yang dikenal sebagai berhala-berhala.
Religiositas atau pengalaman iman menjadi bermakna saat dilaksanakan dengan penuh kearifan di tengah perbedaan dan keragaman. Jika tidak, religiositas hanyalah perangkat kamuflase dari kelaziman beragama yang menjadi tuntutan administrasi.
Di akhir buku, Guru besar Filsafat Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, yang juga anggota Komnas HAM periode 2007-2011 ini menegaskan pentingnya dua bentuk kearifan, yakni kearifan tradisional dan kearifan publik. Dua kearifan tersebut bisa menjadi “katup sosial” dalam masyarakat Indonesia yang multikultural.
Anda yang mencintai buku-buku religiositas dan dialog agama, sudah sepatutnya membaca buku ini hingga tuntas. Tidak menutup kemungkinan juga bagi para “pecinta pengetahuan” (sophie), yang berharap bisa meraih kebijaksanaan. (Boeddoet YP)